Fantastis, Budidaya Porang 1 Hektare Setahun Bisa Raup Untung Rp 218 Juta. Begini Analisa dan Penjelasan dari BPTP Jateng!
Oleh Puspo Wardoyo - Joglosemarnews pada 19 September 2021 07:46
SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah menyampaikan budidaya tanaman Porang masih sangat prospektif.
Selain kebutuhan pasar dunia sangat tinggi, harga jual Porang juga menawarkan keuntungan menjanjikan bagi petani.
Keuntungan per satu hektare lahan dengan 36.000 batang dalam satu musim atau tujuh bulan panen, bisa mencapai Rp 218.595.000.
Sementara jika ditanam lebih lama yakni dua tahun atau dua musim, maka keuntungan yang didapat petani juga meroket besar mencapai Rp 654.670.000.
“Dari analisa usaha yang kami hitung berdasarkan pengalaman petani Porang yang sudah sukses di Ponorogo, keuntungan yang dapat memang sebesar itu,” papar penyuluh pertanian BPTP Jateng, Warsana, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (18/9/2021).
Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Jawa Tengah itu menguraikan untuk rintisan awal seperti di Desa Sigit, Tangen, Sragen, lahan 3 hektare yang disiapkan, membutuhkan 1,5 ton bibit Porang.
Artinya setiap satu hektare lahan setidaknya membutuhkan 500 kg atau 5 kuintal bibit umbi porang. Harga bibit Porang berkisar Rp 60.000 perkg.
Untuk bibit Porang, wilayah Jawa Tengah masih belum ada. Sementara, bibit umbi porang masih didominasi dari wilayah Jawa Timur.
Selain bibit, petani Porang harus menyiapkan biaya untuk sarana produksi. Di antaranya kebutuhan pupuk baik pupuk kimia, maupun pupuk organik atau pupuk kandang.
“Untuk pupuk organik ini diberikan pada awal tanam. Seperti tadi sudah lihat di dalam tanah tadi udah dilubangi. Setiap lubang itu paling tidak di beri pupuk 1 kg untuk pupuk organik. Karena hubungannya dengan lahan semakin lahannya marjinal (tandus), maka kebutuhan pupuk kandang bisa makin banyak dan sangat diperlukan sehingga tanah itu menjadi gembur. Sehingga alokasi 1 kg pupuk itu dalam titik optimal,” urainya.
Warsana menjelaskan budidaya tanaman porang bisa dilakukan dua cara yakni secara tumpang sari atau non tumpang sari. Untuk sistem tumpang sari yang ada berapa tumbuhan lain, maka jarak tanaman porangnya agak jarang.
Jarak tanam dan jumlah batang juga mempengaruhi kebutuhan pupuk. Untuk populasi tanaman yang dibudidayakan tumpang sari dan agak jarang, kebutuhan pupuk 1 hektare cukup satu ton.
Lebih lanjut, ia menyampaikan tanaman Porang biasanya dipanen dalam jangka tahunan yakni minimal satu tahun sampai 3 tahun.
Dari budidaya Porang, petani bisa panen dalam dua komoditi yakni panen umbi dan umbi katak atau bulbil.
“Satu tahun pertama menghasilkan katak, kemudian dua tahun juga demikian. Kalau menghendaki hasil maksimal itu kira- kira dipanen saat umur tanaman hampir 3 tahun,” terangnya.
Berdasarkan hasil analisa usaha dari petani porang yang sudah sukses, Warsana menggambarkan untuk satu hektare lahan dengan populasi 36.000 batang, dalam satu musim atau 7 bulan panen, bisa menghasilkan Rp 81 juta dari panen umbi katak saja.
Angka itu dihasilkan dari produksi katak tiap batang diasumsikan 3 biji dan harga perkg katak Rp 150.000.
Kemudian hasil panen umbi, dengan umur 7 bulan atau setahun, rata-rata per batang menghasilkan 1,5 kg umbi, maka satu hektare bisa menghasilkan 48.000 kg umbi atau 48 ton.
Dengan harga umbi basah Rp 7000 perkilo, maka pendapatan total dari umbi bisa menghasilkan Rp 336 juta.
“Untuk satu tahun atau satu musim tanam, panen katak dan umbi bisa menghasilkan Rp 417 juta. Kemudian total biaya selama satu tahun dari analisa kebutuhan ditotal Rp 198,4 juta. Sehingga masih ada keuntungan Rp 218 juta sekian,” ulasnya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya penanganan dan proteksi harga saat panen. Hal itu untuk memastikan stabilitas harga sehingga petani tidak kesulitan menjual serta harga tetap stabil.